Memata-matai anggaran negara yang sudah memiliki Formula E

图片
Memata-matai anggaran negara yang sudah memiliki Formula E Mobil listrik Formula E akan berhenti di Jakarta. Acara ini dijadwalkan berlangsung tahun depan. Diperkirakan bahwa keberhasilan kompetisi yang harus diikuti di banyak negara akan membutuhkan 1,6 triliun rupee. Saat ini, anggaran sedang dibahas. Formula E memang pertama kali di Indonesia. Banyak negara besar adalah negara tuan rumah pertama. Sekitar 2011, Jean Todt dan Alejandro Agag muncul dengan ide balap mobil listrik. Namun, rencana mereka baru dilaksanakan tiga tahun kemudian atau pada 2014. Beijing menjadi kota pertama yang menjadi tuan rumah Formula E. Setelah itu, banyak negara bergiliran menjadi tuan rumah Formula Satu. Pada saat hosting, negara-negara yang dipilih juga sibuk membersihkan. Seperti musim 2016-2017, Formula E diadakan di Brooklyn, New York. Pada saat itu, mereka membutuhkan dana $ 20 juta, termasuk pembangunan sirkuit, bilik, trotoar baru, dinding keamanan, dan tata letak trotoar yang d...

Kisah Para Migran di Mesir, Dipengaruhi dan Dipaksa Menjual Ginjal

Kisah Para Migran di Mesir, Dipengaruhi dan Dipaksa Menjual Ginjal

BandarJudiQQ

Mengenakan topi bisbol sembari mengisap shisha di sebuah kafe kawasan Kairo, pemuda berusia 19 tahun menceritakan pengalamannya saat kabur dari Eritrea ketika usianya masih 13 tahun. Dawitt, bukan nama sebenarnya, kabur untuk menghindari wajib militer. Keluarganya membayar penyelundup untuk perjalanan menuju Mesir melalui Sudan.

"Saya pikir itu cara terbaik mendapatkan uang dengan cepat kemudian berangkat ke Eropa," tutur Dawitt kepada Sean Columb, dilansir dari The Guardian, Senin (11/2). Columb adalah dosen hukum Universitas Liverpool yang tengah menulis buku tentang perdagangan organ manusia.

"Kita dibawa sepanjang malam menuju rumah sakit. Saya ingat berjalan ke lantai bawah dan menunggu bertemu dengan dokter. Selanjutnya saya masuk ke sebuah ruangan dimana saya diminta mengganti baju dan berbaring di ranjang. Semua yang saya ingat setelahnya saya terbangun dan merasa kesakitan. Saya mulai berteriak dan memaki sampai si makelar datang dan membawa saya kembali ke apartemen," kisahnya.

Perdagangan organ berkembang di Mesir, ditambah tindakan keras pasukan keamanan yang didanai Uni Eropa terhadap pengungsi. Di Mesir, para migran ditahan dengan sewenang-wenang, dan tingginya biaya penyelundupan menjadi peluang bagi para makelar organ yang tidak bermoral untuk memangsa mereka yang putus asa bagaimana mengumpulkan dana agar bisa menyeberangi Mediterania.

"Saya merasa nyaman dengan Isaac setelah ngobrol. Dia orang Eritrean, dan tak tampak seperti penipu. Dia mengatakan kepada saya dia telah menyelundupkan ratusan orang tiap bulan dan dia tak perlu uang. Dia membuat saya merasa seolah dialah yang memperlakukan saya dengan baik. Dia memberi saya nomornya dan menyuruh saya menelpon ketika saya sudah siap," ceritanya.

Bukti menunjukkan makelar organ selalu mendekati para migran dengan tawaran perjalanan ke Eropa. Sebab, kebijakan Uni Eropa mengeksternalisasi perbatasan dengan meningkatkan kapasitas negara-negara Afrika seperti Libya, Mesir dan Sudan untuk mengelola migrasi, yang didorong oleh EU Emergency Trust Fund for Africa.

Di luar sebuah kafe di dekat Alun-alun Tahrir, Ibrahim menceritakan perannya merekrut migran yang terlibat operasi jaringan penyelundupan di sepanjang pantai utara Mesir. "Orang-orang datang kepada saya untuk merencanakan transportasinya dan bagaimana melakukan pembayaran. Saya mengonfirmasi pembayaran dengan bos dan selanjutnya membawa orang-orang ini dari Kairo ke Aleksandria. Mereka tinggal di gudang peternakan ayam dan menunggu di sana sampai waktunya siap menyeberang," ceritanya.

"Orang-orang bisa membayar kurang dari harga yang diminta (USD 3.500) tetapi jika Anda melakukan ini, Anda seperti penumpang kelas tiga," sarannya.

"Ada beberapa orang yang hanya peduli tentang mendapatkan uang. Mereka tidak peduli jika Anda tiba di tujuan atau mati di laut. Inilah sebabnya saya menyarankan orang untuk melakukan pembayaran di muka, meskipun itu berarti menjual ginjal," lanjutnya.

Sebuah hukum yang melarang penjualan organ diperkenalkan pada 2010 tetapi mendorong perdagangan organ berlangsung di bawah tanah. Asha, dari Sudan, menjelaskan bagaimana dia direkrut di Khartoum dan dibawa ke Kairo.

Ketika tiba di Kairo, Asha diberi tahu dia tidak akan dibawa ke Eropa. Sebaliknya dia akan "menyumbangkan" ginjalnya. Dia dijanjikan USD 2.000 jika menurut. Jika tidak, kata pria itu, mereka akan mengambil ginjalnya dengan paksa. Asha dibawa dengan taksi ke sebuah apartemen sederhana di Alexandria.

Setelah operasi, Asha melaporkan salah satu makelar ke polisi. Makelar itu kemudian ditangkap dan ditahan selama 30 hari. Namun ironisnya dibebaskan tanpa tuduhan. Pada Juli 2018, Kementerian Kesehatan Mesir mengumumkan bahwa 37 orang dinyatakan bersalah oleh pengadilan Mesir atas tuduhan perdagangan ilegal organ tubuh manusia. Namun jumlah korban tak disebutkan.

Asha hidup dalam ketakutan, menjadi sasaran ancaman dan intimidasi oleh perantara dan rekan-rekannya. Dia diancam jika tidak menarik pernyataannya, anak-anaknya akan menanggung akibatnya.

"Saya khawatir tentang apa yang akan terjadi pada anak-anak saya. Saya khawatir mereka akan datang untuk organ mereka juga," tutupnya.

评论

此博客中的热门博文

Pemerintah India meminta Google dan Apple untuk menutup hak akses Tok Tok

Pertemuan Senior Vanessa Angel, Investigator Memeriksa Rian Subroto untuk Kesaksian

Warga Murung Raya dikejutkan oleh penemuan bayi laki-laki di semak-semak