"Mari Kita Selamatkan Bumi!" Kampanye ini sudah lama bergaung di telinga. Harapannya sederhana. Agar bumi tetap sehat. Terhindar dari berbagai hal merusak. Terutama sampah plastik, lantaran sulit terurai.
Sampah plastik bukan cuma kantong belanjaan dan bungkusan makanan. Banyak macamnya. Termasuk sedotan plastik. Bahkan jenis sampah itu menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merilis akhir 2018 lalu, setiap hari ada 93 juta sampah sedotan plastik di Indonesia.
Bahkan sudah mengganggu ekosistem makhluk hidup. Mungkin sudah banyak melihat video bagaimana seekor penyu hidungnya tersumbat sampah sedotan plastik. Coba saja googling dengan kata kunci penyu dan sedotan. Tragis dan tak tega lihatnya.
"Gerakan sosial atau bisa disebut dengan kampanye ini merupakan tanda rasa cinta kami terhadap bumi. Masalah penggunaan sedotan plastik. Terlihat sepele namun berdampak besar terhadap keadaan lingkungan kita," kata Dita, pemilik gerakan sosial nostrawplease.umb kepada merdeka.com, Sabtu pekan lalu.
Bagi kelompoknya, sedotan bukan merupakan peralatan penting. Seharunya itu ditinggalkan. Budaya mengonsumsi minuman tanpa sedotan harus digalakkan. Dengan cara itu, justru ke depan sampah sedotan bakal terus berkurang. "Dengan menyetop penggunaan sedotan plastik kita ikut berperan banyak untuk keselamatan lingkungan," katanya.
Berbagi cerita menjadi cara membuat banyak masyarakat sadar untuk mengurangi pemakaian plastik. Perlahan, disadari Dita, gerakan ini menjadi tren. Banyak diikuti. Banyak respon positif didapat kelompok ini.
Dia bercerita, awal mendirikan Sesapan memang fokus kampanye perihal sedotan plastik. Kelompok ini menyadari sampah sedotan sudah merusak lingkungan dan menyakiti banyak hewan. Setelah berkutat, memberi cerita dan pengalaman, Alma melihat muncul produk sedotan berbahan stainless.
Selain berkampanye di media sosial, Alma dan teman kelompoknya juga mendatangi sekolah di kawasan Cimahi. Sampai mendirikan tenda. Di sana menyediakan segudang informasi soal sampah plastik. Selain itu, Sesapan juga mulai menjalin relasi dengan bank sampah di daerah tersebut. Bahkan ke depannya mereka bakal mengadakan kegiatan menukat sedotan plastik menjadi sedotan bambu.
Sejak lapak dagang sedotan stainless itu dia buka, lebih kurang pcs laku terjual. Ke depan, dia ingin mengembangkan model sedotan lipatan agar lebih mudah dibawa saat bepergian, kemudian menyediakan totebag. Sehingga, kebiasaan menggunakan plastik mulai ditinggalkan meskipun sebagian hanya melakukannya demi mengikuti tren.
Pemakai Sedotan Stainless
Kantong serut warna putih jadi benda wajib dibawa Galang. Pergi ke mana saja benda berukuran 35 cm ini diselipkan di tas. Berisi dua sedotan berbahan stainless. Lengkap dengan sebuah sikat pembersih.
Kampanye anti sedotan plastik memang menjadi tren. Namun, Galang enggak dibilang ikut-ikutan. Memang dia tak suka menggunakan sedotan. Lebih senang meneguk minuman langsung dari gelas. Alasan kebersihan jadi faktor utama.
"Misal kita beli minuman pakai sedotan. Setelah habis kita buang. Kalau sering beli, lama-lama menumpuk jadi sampah plastik," tutur Galang kepada merdeka.com pekan lalu.
Tak mau ikut menyumbang sampah plastik, Galang memutuskan membeli sedotan ramah lingkungan. Diakuinya, sang kakak menjadi inspirasi meski harga sepaket sedotan stainless terbilang mahal. Di situs belanja online, sepaket sedotan stainless dibanderol dari harga Rp20.000-Rp100.0000. Sedotan kaca Rp15.000-Rp50.000 per batang. Sedangkan sedotan berbahan bambu Rp 10.000 per batang.
Sadar gerakan anti sedotan plastik juga dirasakan Sendy. Barista di Bandung ini juga sudah lama meninggalkan sedotan plastik. Sebagai gantinya, dia selalu membawa dua sedotan stainless ke mana pun pergi. Harga belinya saat itu Rp 7.500 per batang. "Malas saja pakai sedotan (plastik), kalau sudah dipakai terus dibuang. Jadi sampah plastik kan," kata Sendy pekan lalu.
Selain beralih pada sedotan stainless, Sendy mulai membawa tempat minum dan makan dalam tiap aktivitasnya. Sama dengan sedotan plastik, membeli minuman kemasan akan menambah gunungan sampah sulit terurai. Bonusnya,dia ikut menjaga lingkungan dan bisa berhemat.
Kebiasaan Sendy tak lepas dari lingkungan pekerjaannya sebagai barista. Dia dituntut menjaga kebersihan, teliti dan rapi. Pemilik kedai kopi tempatnya bekerja juga memiliki fokus terhadap isu lingkungan. Salah satunya sampah plastik. Gerakan itu juga didukung atasannya.
"Bos aku cuma bilang, mulai sekarang kita pakai ini saja," kata Sendy mengulang pernyataan bosnya. Sejak saat itu kedai kopi ini perlahan meninggalkan sedotan plastik. Tak lagi memasukkan sedotan plastik dalam daftar belanja. Meski tak banyak, namun memangkas biaya pengeluaran.
评论
发表评论