Mobil double kabin berwarna putih itu terparkir di sebuah lahan kosong. Tongkrongannya gagah. Hampir seluruh bodi kendaraan dipasang stiker foto wajah pria berpeci hitam. Bertuliskan nama Awaludin Wahab. Lalu terdapat juga lambang Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Semua menempel lengkap. Berkilap.
Ustaz Encep, begitu si caleg ini disapa. Menggunakan mobilnya alat transportasi bertemu calon pemilih.Kami berkesempatan mengikuti dia berkampanye pada pekan lalu. Melihat lebih dekat bagaimana para caleg ini melakukan sosialisasi program dirinya, partai dan memperkenalkan calon presiden maupun wakil presiden. Semua itu harus dilakukan bersamaan.
Kurang dari setengah jam, tiba di acara pertama. Arisan. Siang itu para peserta arisan hadir mengenakan pakaian batik. Cukup sederhana. Perbincangan mereka tampak akrab. Saling menanyakan kabar dan perkembangan proses sosialisasi. Di antara mereka bukan cuma Encep tengah jadi caleg. Ada beberapa tamu juga menjadi calon wakil rakyat di daerah pemilihan berbeda.
Meski tidak secara terbuka, Encep di beberapa kesempatan tampak menyisipkan materi kampanye. Semisal menyebutkan lima cara hidup ala Rasulullah. Angka lima merupakan nomor urutnya di surat suara. Mendengar itu audiens terlihat tertawa. Mereka paham maksud pernyataan Encep. Lebih dari itu memang cara dakwah Encep termasuk interaktif dan kerap menyisipkan guyonan agar tidak jenuh.
Berangkat dari latar belakang tokoh agama, membuat dakwah jadi sarana Encep mendekati warga. Tiap kali melakukan sosialisasi, pola dipakai selalu begitu. Harus diakui, target utamanya adalah pemilih muslim. Mulai dari pesantren sampai pengajian majelis taklim. Sehingga cara ini dianggap efektif. Semua ini dikarenakan Encep ingin memperbaiki dunia pendidikan agama. Khususnya pesantren.
Hal serupa juga ia lakukan saat datang ke tiap majelis taklim. Maupun blusukan dari pesantren ke pesantren. Tapi kehadirannya hanya untuk memperkenalkan diri. Lalu berdakwah seperti biasa. Karena biasanya diundang sebagai penceramah. Membawa tema sesuai kondisi terkini. Salah satunya materi tentang kepemimpinan.
Di sini ia baru menyampaikan maksud dan tujuannya. Menyampaikan visi misi kepada tokoh masyarakat. Lalu meminta doa dan dukungan. "Jadi kampanye lewat anggota DKM (Dewan Kemakmuran Masjid), Kiai, RT, RW dan tokoh masyarakat saja," ucap Encep.
Meski tak menyampaikan kampanye di dalam pesantren, Tim pemenangan Encep cukup lihai. Biasanya jarak 15 meter dari masjid atau pesantren telah dipasang baliho atau spanduk kampanye bergambar Encep. Semua cara itu harus dilakukan. Sebab hanya ada 8 kursi tersedia untuk Dapil 5. Itu diperebutkan 128 caleg dari PKS dan partai peserta pemilu lainnya.
Encep mengaku tak ada hambatan berarti tiap kali ia berkampanye. Dia beruntung maju lewat PKS. Sebab Kabupaten Garut khususnya Dapil 5 menjadi lumbung suara bagi pemilih Prabowo Subianto pada Pilpres 2014 lalu.
Lalu pada Pilkada Kabupaten Garut 2018, pasangan Rudy-Helmi yang diusung Partai Gerindra, PKS dan NasDem berhasil meraup suara 428.113 suara atau sekitar 35,8 persen. Pesaingnya pasangan Iman Alirahman - Dedi Hasan memperoleh suara sebanyak 395.283 atau 33,05 persen.
Kampanye Caleg Milenial
Bukan cuma Encep. Kami juga berkesempatan mengikuti giat kampanye caleg bernama Arief Budiman. Usianya baru 23 tahun. Calon anggota dewan Nomor urut 3. Dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Sekitar jam 10 pagi, kami bertemu di sekitar pintu masuk Sirkuit Sentul, Bogor. Hari itu Arief dijadwalkan blusukan ke Desa Sumur Batu, Kecamatan Babakan Mandang, Kabupaten Bogor. Arief datang bersama dua temannya. Mereka datang menggunakan dua sepeda motor.
Sementara dua temannya. Eko dan Ridwan. Mereka hari itu memakai kaos merah dan mengenakan rompi hitam. Eko merupakan Ketua Tim Pemenangan Arief. Bertugas mengatur jadwal dan keuangan selama masa kampanye. Sedangkan Ridwan memiliki tugasnya mendokumentasikan kegiatan Arief dan mengelola sosial media.
Arief sebagai caleg tanpa ragu langsung memperkenalkan diri. Menghampiri setiap warga di rumah atau di pinggir jalan. Terlebih dulu mengucapkan salam. Lalu memperkenalkan diri. "Assallamulaikum Pak, perkenalkan nama saya Arief Budiman," kata Arief memperkenalkan diri kepada warga sedang duduk di teras rumah.
"Insya Allah saya mau jadi caleg Pak, dari PSI nomor urut 3. Mohon doa restu dan dukungannya Pak," lanjut Arief. Ketika Arief berbincang dengan warga, Ridwan tampak membagikan permen lolipop pada anak-anak. Kebetulan, di depan rumah itu ada beberapa balita sedang asyik bermain.
Beragam reaksi warga saat didatangi Arief. Mulai dari bingung, malu-malu, menyambut hangat dan sebagainya. Tak jarang Arief didoakan warga sudah sepuh di lokasi itu. Selain berkenalan, Arief juga kerap mengajak warga swafoto. Beberapa ada yang menolak. Alasannya sedang tidak memakai kerudung. Hanya memakai daster.
Mendengar itu, Arief hanya tersenyum sambil undur diri. Tapi ada juga warga yang mau berfoto bersama. Sambil membuat jari mereka seperti hitungan tiga. Sesuai nomor urut Arief di surat suara.
Adapun keluhan didengarnya, seperti permasalahan pengelolaan sampah. Warga mengeluhkan petugas kebersihan tak rutin mengambil sampah warga. Akibatnya, warga memilih jalan pintas. Membuang sampah ke aliran sungai.
Dua jam kami keliling kampung. Tak ada alat peraga kampanye yang dibagikan Arief. Baik stiker, pin, kartu nama, atau bahkan kaos. Mereka hanya membagikan permen kepada anak-anak kecil.
Dapil 1 tempat dia nyaleg nyatanya lumbung suara Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 lalu. Dari jumlah suara sah 2.489.002, pasangan Prabowo-Hatta menang 63,73 persen atau 1.636.134 suara. Sementara pasangan Jokowi-JK hanya mendapat 34,27 persen atau 852.888 suara.
Pikirnya, orang dewasa akan menanyakan dari mana anak-anak mendapatkan permen gratisan. Lantas warga jadi penasaran dan mencari tahu. Berharap permen itu membekas dalam benak warga. Sebab, biasanya caleg lain membagikan stiker, kartu nama dan sejenisnya.
Sebagai anak muda, justru tertantang menang di kandang lawan. Dengan cara terus mengasah dan memutar otak agar bisa diterima masyarakat. Baginya pilihan presiden boleh saja beda, tapi dirinyamenaruh harapan besar dipilih jadi anggota DPRD.
Model kampanye ini diadopsi Arief dari Ridwan Kamil. Pada Pilgub Jawa Barat lalu, dia jadi bagian dari tim sukses Ridwan Kamil. Arief mengawal serangkaian kegiatan kampanye Ridwan Kamil di Kabupaten Bogor. Termasuk di Dapil 1 Kabupaten Bogor tempatnya berkampanye.
Selain membagikan permen, mengajak warga swa foto juga jadi bagian dari strategi. Sebagai anak muda dan merasa melek teknologi, dia ingin meninggalkan kesan baru di warga. Pesan anak muda berani terjun ke dunia politik. Mengunggah pelbagai kegiatan kampanye demi menunjukkan identitasnya sebagai anak muda.
Selain menerima bantuan kampanye berupa uang, Arief membuka donasi dalam bentuk alat peraga kampanye. Dia cukup lega, sudah ada pengusaha menyumbang kaos sebanyak tujuh ribu buah. Kaos ini baru akan dibagikan mulai tahun depan.
Beban Kampanyekan Capres
Memasuki bulan kedua masa kampanye, saat ini para caleg masih melakukan penjajakan. Melakukan pendekatan dengan pemilih. Masa pengenalan ini berlangsung sampai akhir bulan Desember. Mereka baru tancap gas di bulan Januari. Para caleg mulai agresif mendekati warga. Menyampaikan visi misi dan merawat suara.
Ada pesan tersirat mereka punya beban baru. Secara elektoral, efek ekor jas para tokoh capres-cawapres tidak begitu berpengaruh. Sebab pada akhirnya dua pasang tersebut sudah populer dan memiliki elektabilitas tinggi.
Sebab, fakta di lapangan berbeda dengan harapan ideal partai politik. Ada beberapa pendukung Encep pilihan Pilpresnya kepada Jokowi-Ma'ruf. Dia pun tak bisa memaksakan kehendaknya. Membuat semua pendukungnya jadi pemilih Prabowo-Sandi. Kata dia, terpenting tugasnya mengkampanyekan Prabowo-Sandi sudah selesai. Soal pilihan caleg dan capres-cawapres kembali jadi hak konstituen.
Sedangkan saat jadwal kampanye Pilpres, dia cukup diuntungkan dalam hal ini. Sebab, sambil kampanye Pilpres, dia bisa menumpang nama untuk di Pileg DPRD tingkat kabupaten/kota. "Kalau saya kampanye pilpres saya bisa membawa nama saya, memanfaatkan elektoral Jokowi," ucap Arief.
Dalam Pilpres, ketokohan dari kandidat jadi kunci utama. Sebaliknya, dalam pileg faktor ketokohan dan citra partai politik jadi penentu. Dalam pengamatannya para caleg lebih fokus memenangkan diri sendiri dan partai. Apalagi bila berada di basis lawan politik. "Karena logikanya beda walaupun periode ini dalam waktu yang sama," kata Usep.
Maka sebaiknya pileg dan pilpres memiliki mesin partai yang berbeda. Sehingga semua bisa bekerja maksimal. Menang dalam kategori yang beda. "Jadi memang harus punya mesin politik yang berbeda agar hasilnya maksimal," ungkap Usep.
评论
发表评论